Peribahasa "tikus mati di lumbung padi" bukan sekadar rangkaian kata, melainkan tamparan keras bagi keadilan sosial. Fenomena ini menunjukkan adanya mata rantai yang terputus antara kekayaan sumber daya dan kesejahteraan masyarakatnya.
Ada dua faktor utama mengapa hal ini terjadi:
- Ketimpangan Distribusi: Masalahnya sering kali bukan karena "padinya" kurang, tapi karena akses menuju lumbung tersebut dikunci rapat oleh segelintir pihak. Kekayaan hanya berputar di elit, sementara mereka yang berada di atas tanah kaya tersebut hanya menjadi penonton.
- Kelemahan Tata Kelola: Tanpa pendidikan dan proteksi yang tepat, masyarakat lokal (si "tikus") tidak punya kekuatan untuk mengelola potensi di depan mata. Mereka kalah saing dengan sistem yang lebih besar dan rakus.
Kesimpulannya: Sangat tragis ketika sebuah bangsa atau daerah yang kaya raya justru membiarkan rakyatnya hidup dalam kekurangan. Memperbaiki lumbung tanpa memberi akses pada penghuninya hanya akan menciptakan gedung megah yang berisi penderitaan.


0Komentar