Oleh : Ali Akbar, S.Kom., M.AP.
(Camat Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat)
Peringatan Hari Sumpah Pemuda selalu menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk memperkuat persatuan serta meneguhkan komitmen generasi muda dalam mengisi ruang-ruang pembangunan. Namun, esensi Sumpah Pemuda sejatinya tidak hanya terbatas pada kelompok usia muda secara administratif. Kata "pemuda" di dalamnya sarat akan makna "semangat muda".
Artinya, mereka yang berada di rentang usia 50 hingga 60 tahun pun tidak terpinggirkan dari narasi besar ini. Sumpah Pemuda adalah representasi dari kobaran semangat seluruh warga Indonesia yang senantiasa dijiwai oleh energi kepemudaan—sebuah daya juang yang melintasi batas usia.
Tantangan Zaman: Antara Luapan Informasi dan Degradasi Adab
Lantas, apa yang paling krusial untuk dilakukan para pemuda hari ini? Tantangan zaman yang dihadapi generasi masa kini jauh lebih kompleks dibanding era-era sebelumnya.
Pertama, penguasaan terhadap teknologi adalah sebuah keniscayaan. Namun, memiliki akses saja tidak cukup; pemuda hari ini dituntut memiliki wawasan dan kearifan mendalam dalam memilah serta menggunakan informasi. Jika di masa lalu tantangan terbesar adalah mencari informasi, maka di era digital saat ini tantangannya justru menemukan kebenaran di antara tumpukan jerami informasi yang simpang siur.
Kedua, fenomena kebiasaan scrolling—mengonsumsi informasi secara instan, cepat, dan kerap kali setengah-setengah—tanpa disadari mulai menggerus nilai-nilai kesabaran, ketekunan, serta keuletan generasi Gen Z. Di alam bawah sadar, pola instan ini berisiko melahirkan pribadi-pribadi yang kurang tahan uji manakala dihadapkan pada persoalan rumit yang menuntut ketelitian dan kedalaman berpikir.
Selain itu, tata krama dan adab kesantunan pun diakui mulai banyak tergerus arus modernisasi. Di sinilah pentingnya para pemuda untuk mampu menempatkan diri secara bijak.
Think Globally, Act Locally: Resepsi Generasi Paripurna
Para pendahulu kita telah mewariskan sebuah pedoman luhur yang sangat relevan hingga hari ini: pikirkan dan miliki wawasan seluas-luasnya, tetapi tetap bertingkah laku dan beretika sebagai warga Indonesia yang menjunjung tinggi kearifan lokal.
Atau dalam bahasa yang lebih populer: Think globally, act locally. Berpikir dan merespons perkembangan dunia seluas mungkin, tetapi dalam keseharian tetap berpijak pada akar budaya bangsa yang santun, beradab, dan beretika. Manakala seorang pemuda mampu memadukan wawasan global dengan keluhuran lokal, pada saat itulah ia bertransformasi menjadi generasi paripurna.
Estafet Pembangunan di Pundak Pemuda
Peran pemuda dalam membangun bangsa hari ini dan di masa depan tidak bisa ditawar lagi; ia bernilai mutlak. Estafet kemajuan suatu bangsa berada di tangan para pemuda yang secara fisik lebih bugar, energik, dan kreatif. Ketika keunggulan fisik dan usia muda ini dipadukan dengan wawasan luas serta penguasaan teknologi,, maka ia akan menjadi motor penggerak pembangunan yang sangat vital, baik di tingkat nasional, regional Jawa Barat, hingga di kleresidenan/kecamatan seperti di Cianjur tercinta.
Pesan dan Tips untuk Generasi Muda
Sebagai penutup, ada beberapa pesan penting bagi para pemuda sekalian:
- Perluas Wawasan dan Manfaatkan Teknologi: Dunia hari ini berada di dalam genggaman kalian. Akses internet dan media sosial terbuka amat lebar; manfaatkan untuk menyerap ilmu dan informasi yang bermanfaat seluas-luasnya.
- Kukuhkan Identitas dan Kearifan Lokal: Jangan lupakan identitas kita sebagai bangsa yang kaya akan etika dan sopan santun. Menikmati budaya global seperti tren K-Pop tentu tidak dilarang, tetapi daya tarik sejati seorang pemuda Indonesia justru terletak pada kebanggaannya merawat tradisi—seperti kepiawaian memainkan kesenian tradisional kecapi dan suling.
Mari jadikan semangat Sumpah Pemuda sebagai kompas moral untuk berpikir mendunia, bertindak santun, dan membangun negeri dari akar rumput.


0Komentar
Terimakasih telah memberikan kontribusi anda