CIANJUR — Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Isfhan Taufik Munggaran, menegaskan pentingnya penguatan nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat guna membentengi generasi muda dari arus negatif globalisasi dan kemerosotan moral.
Hal tersebut disampaikannya usai menghadiri kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Acara ini bertempat di Palace Hotel Cipanas, Jalan Raya Cipanas KM 81,2, Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Kegiatan strategis ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama dari enam agama resmi, mahasiswa, pelajar SMK, hingga para tokoh pemuda di Kabupaten Cianjur. Hadir pula sebagai narasumber utama dalam kegiatan tersebut, Dr. (H.C.) H.M. Choirul Anam, M.Z.I.
Menurut Isfhan, program yang diinisiasi oleh BPIP ini sangat krusial dan relevan dengan kondisi sosial saat ini. Ia menyoroti fenomena di mana Pancasila sering digaungkan, namun implementasinya kerap ditinggalkan begitu saja oleh sebagian kalangan.
"Penyelenggaraannya itu adalah Badan Pembina Ideologi Pancasila. Kita menyampaikan nilai-nilai Pancasila dari sila pertama sampai sila kelima. Seringkali orang menggaungkannya, tetapi begitu larik dengan cepat meninggalkan Pancasila itu sendiri," ujar Isfhan.
Ia juga menyoroti akar permasalahan dari dekadensi moral yang saat ini tengah melanda masyarakat, salah satunya dipicu oleh derasnya arus informasi dari media sosial dan media mainstream yang masuk tanpa filter melalui gawai (gadget).
"Kemerosotan moral itu pertama berasal dari media mainstream terus media sosial yang bisa masuk ke dalam HP atau gadget yang masing-masing dipakai masyarakat, yang berasal dari budaya luar dan tidak disaring dulu. Di situlah kecelakaan yang bertabrakan dengan ideologi Pancasila," tegasnya.
Isfhan menambahkan, berbagai kasus sosial yang terjadi akhir-akhir ini, termasuk kekerasan terhadap anak di bawah umur, merupakan indikasi hilangnya kepekaan nurani di tengah masyarakat.
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, Isfhan menekankan bahwa penyelesaian masalah moral dan sosial tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah semata, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen bangsa.
"Ini menjadi tanggung jawab bersama. Tidak hanya pemerintah saja, baik kabupaten, provinsi, pusat, maupun saya sendiri. Ini adalah sebuah tindakan yang harus kita lakukan bersama-sama," ajaknya.
Ia merinci bagaimana pengamalan Pancasila harus kembali dihidupkan dalam keseharian:
- Sila Pertama: Menumbuhkan kembali nilai Ketuhanan di dalam hati.
- Sila Kedua: Meninggikan adab di atas segala-galanya dalam perikemanusiaan.
- Sila Ketiga: Menjaga persatuan tanpa bercerai-berai karena kepentingan golongan.
- Sila Keempat: Mengedepankan musyawarah yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.
- Sila Kelima: Memastikan keadilan sosial dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya segelintir pihak.
Dalam kesempatan yang sama, Isfhan juga menyoroti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Cianjur yang saat ini berada di peringkat 27 atau terendah di Provinsi Jawa Barat. Menurutnya, hal tersebut merupakan pekerjaan rumah bersama yang harus diselesaikan melalui kesadaran kolektif, mulai dari kedisiplinan pelajar hingga peran aktif orang tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga.
Sebagai langkah nyata, Isfhan membagikan pengalamannya dalam membatasi penggunaan gawai pada anak-anaknya di rumah demi menjaga tumbuh kembang mereka secara optimal.
"Contohnya seperti saya, tidak hanya ngabuburit atau koar-koar saja. Anak saya yang masih di bawah usia 5 tahun pun saya didik dengan tegas. Urusan gadget saya batasi, lebih baik anak saya bermain dengan hewan peliharaan dan alam lingkungannya daripada harus memegang HP," pungkasnya. (Edo)


