Simaklah, CIANJUR – Pemerintah Desa Sarampad, Kecamatan Cugenang, terus berinovasi dalam menggerakkan roda ekonomi desa. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Samarata, desa ini resmi meluncurkan program ketahanan pangan terpadu yang menggabungkan sektor peternakan, perikanan, dan pertanian dalam satu kawasan terintegrasi di Kampung Tegal Panjang.
SIMAK VIDEONYA.!
BUMDes Samarata menerapkan konsep Longyam (Balong Ayam), sebuah sistem efisiensi lahan di mana kandang ayam petelur dibangun tepat di atas kolam ikan. Saat ini, terdapat 500 ekor ayam petelur yang dikelola secara intensif.
- Produksi Telur: Saat ini mencapai 17 kg per hari, dengan target optimal 25 kg per hari.
- Budidaya Lele: Memanfaatkan area bawah kandang, panen perdana lele berhasil mencatatkan angka 172 kg.
- Jaminan Kesehatan: Pengelolaan bekerja sama dengan ahli kesehatan hewan dan pengawasan dokter hewan untuk memastikan kualitas hasil ternak.
Selain sektor protein hewani, BUMDes Samarata mengoptimalkan lahan seluas 4.000 meter persegi untuk perkebunan hortikultura. Komoditas yang ditanam meliputi bawang daun, cabai merah, dan cabai rawit (cengek).
Sektor ini tidak hanya mengejar profit, tetapi juga menjadi solusi lapangan kerja bagi warga lokal. Tercatat sebanyak 10 orang warga setempat kini terlibat aktif mengelola lahan tersebut, yang berdampak langsung pada penguatan ekonomi keluarga di Desa Sarampad.
Ketua BUMDes Samarata, Adi Mulyadi, mengungkapkan bahwa total investasi pengembangan usaha ini mencapai Rp292.000.000 yang bersumber dari Dana Desa. Ia pun menjamin transparansi dalam pembagian laba usaha.
"Skema pembagian keuntungan kami adalah 70% untuk pengembangan modal dan operasional, sementara 30% akan disetorkan sebagai Pendapatan Asli Desa (PADes). Kami menargetkan setoran PADes sebesar Rp20.000.000 per tahun," jelas Adi.
Kepala Desa Sarampad, Dudu Abdurojab, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah BUMDes. Ia menekankan bahwa program ini memiliki nilai strategis karena bersinergi dengan program pemerintah pusat, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Kami berharap unit usaha ini menjadi simbol kemandirian desa. Selain memperkuat ketahanan pangan, hasil panen ini akan terserap ke program Makan Bergizi Gratis, sehingga pasarnya jelas dan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat," ujar Dudu.
Dengan adanya integrasi ini, Desa Sarampad optimis mampu menciptakan ekosistem ekonomi mandiri yang berkelanjutan dan berkontribusi signifikan terhadap postur APBDes di masa depan. (R2Sj)



0Komentar